Di panahan tingkat elite, perbedaan antara medali emas dan kegagalan seringkali tidak terletak pada teknik fisik, melainkan pada ketangguhan mental. Busur yang paling canggih dan teknik yang paling sempurna pun akan runtuh di bawah tekanan psikologis yang intens, terutama saat menghadapi Target Panic dan hiruk-pikuk Tekanan Final di Arena Internasional. Menguasai Mental Game adalah kunci utama yang membedakan juara dunia dari runner-up abadi.
Target Panic adalah momok psikologis yang dialami banyak pemanah, ditandai dengan ketidakmampuan melepaskan anak panah pada titik bidik yang ideal, seringkali karena ketakutan bawah sadar akan kegagalan. Ini bukan masalah fisik, melainkan pergulatan pikiran. Mengatasinya membutuhkan latihan mental yang sama intensifnya dengan latihan fisik. Salah satu teknik efektif adalah rutinitas pra-tembak yang terpersonalisasi (personalized pre-shot routine). Rutinitas ini, yang melibatkan self-talk positif, pernapasan terstruktur, dan visualisasi, berfungsi sebagai jangkar mental yang mengalihkan fokus dari hasil ke proses.
Tekanan Final di Arena Internasional menuntut tingkat ketenangan yang berbeda. Di sini, pemanah harus berhadapan dengan noise visual, ekspektasi publik, dan suara detak jantung sendiri. Untuk menaklukkan ini, atlet harus menguasai mindfulness dan teknik pemusatan perhatian. Pelatih dan psikolog olahraga harus mengajarkan atlet untuk melihat tekanan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai tantangan yang menguji kedewasaan mental.
Perpani perlu mengintegrasikan Dukungan Psikologi Olahraga sebagai komponen wajib dalam kurikulum pembinaan. Ini mencakup sesi reguler dengan psikolog untuk mengelola kecemasan kompetisi (competitive anxiety), membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan strategi coping untuk mengatasi kesalahan fatal (flinch).
Pada akhirnya, kesuksesan di panahan adalah tentang konsistensi pelepasan tali busur (release consistency). Konsistensi ini hanya dapat dicapai jika pikiran tenang dan terkontrol. Dengan memahami, mengakui, dan secara ilmiah melatih aspek mental, atlet Indonesia akan mampu mengubah tekanan final menjadi momentum kemenangan, memastikan bahwa Mental Game mereka sama tajamnya dengan ujung anak panah mereka.